Kalender


« November 2017 »
Mo Tu We Th Fr Sa Su
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      

Komentar Terakhir

    Sarapan Pagi dan Amanah – 1

    collaborationSuatu pagi saya mengajak guru-guru muda para penghafal quran untuk sarapan pagi bersama. Saya ingin menghilangkan kekakuan hubungan antara manajemen dengan mereka yang mungkin saja terjadi. Hanya menduga-duga hal yang sering terjadi pada umumnya institusi pendidikan-pendidikan. Diamana para guru umumnya memandang kedudukan manajemen begitu tinggi dan angker serta begitu jauh berada dalam lingkaran aktifitas harian para guru dan staf lainnya. Saya ingin mencairkannya dengan cara-cara yang selama ini saya lakukan ketika saya bekerja pada sebuah perusahaan PMA Jepang selama 7 tahun. 

    Saya mempersilahkan mereka memesan menu makanan dan minuman sendiri-sendiri sesukanya. Sementara saya memilih sarapan kesukaan saya, pecel lontong, empal goreng dan beras kencur dingin. Beberapa menit kemudian semua sudah kumpul di bawah saung tempat kita berkumpul dengan menunya masing-masing.

    Sambil menyantap makanan masing-masing, diskusi mulai menghangat ketika ada dari seorang guru bertanya, “Bagaimana seandainya yang mendaftar di sekolah kita hanya satu orang saja? Apakah kita akan teruskan atau menunda hingga tahun depan sesuai dengan rencana awal kita?”

    Saya tidak langsung memberikan jawaban atau penjelasan. Saya biarkan pertanyaan itu dijawab oleh mereka sendiri. Saya ingin tahu pola pikir dan pandangan guru-guru muda ini. Bisa saja langsung saya jawab dan jelaskan. Namun biarlah mereka berusaha dulu untuk saling memberikan pandangannya masing-masing. Saya memposisikan diri sebagai pengamat sambil fokus juga ke pecel pincuk di depan saya…

    Menanti dalam keheningan… Sepertinya diantara mereka sama-sama saling menunggu siapa kira-kira yang berani untuk mengeluarkan pendapat pertama kali… Akhirnya saya buka dengan pertanyaan yang lain,

    “Emangnya berbeda mendidik satu siswa dengan banyak siswa…?”

    “Menurut kita lebih mudah mendidik satu siswa dari pada banyak siswa?”

    “Atau, menurut kita apakah lebih mudah mencapai target bila siswanya hanya satu orang saja?”

    Saya perhatikan raut wajah-wajah mereka makin serius… Sepertinya masing-masing sedang berusaha memikirkan jawaban-jawaban pertanyaan-pertanyaan saya.

    Saya diam beberapa saat sampai akhirnya saya putuskan untuk menjelaskannya. Karena saya pikir, sepertinya mereka masih canggung atau sungkan untuk memberikan jawaban secara terbuka. Atau canggung karena berdiskusi langsung dengan pihak manajemen baru yang belum saling mengetahui karakter atau gaya kerja kita masing-masing. Saya sangat memaklumi hal ini…

    Bersambung…